Sabtu, 28 November 2015

Pro Kontra Pemanasan Global

Menurut beberapa ahli Pemanasan Global atau Global Warming adalah sebuah proses di mana peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir.
Sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca yang diakibatan aktivitas manusia melalui efek rumah kaca dan menurut sebagian ahli disebabkan oleh meningkatnya kandungan gas Karbon Dioksida (CO2) dan partikel polutan lainnya di atmosfer Bumi. Namun, pada kondisi yang normal, efek rumah kaca tersebut berdampak positif karena dengan efek rumah kaca yang berkondisi normal Bumi akan menjadi hangat dan dapat menjadi tempat hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Dan tanpa efek rumah kaca, bagian Bumi yang tidak terkena sinar matahari akan menjadi sangat dingin hingga -18C.

Manusia kontributor signifikan perubahan iklim
Edward Jonathan “Ed” Davey, MP FRSA adalah seorang politisi Inggris Liberal Democrat. Dia telah menjadi anggota parlemen untuk  Kingston dan Surbiton sejak 1997, dan menjadi Sekretaris Negara untuk Energi dan Perubahan Iklim sejak tahun 2012.
Berbicara di depan simposium Royal Society, Ed Davey akan mengemukakan bahwa ilmu pengetahuan perubahan iklim tidak dapat disangkal lagi dan manusia membuat kontribusi yang signifikan pada kenaikan temperatur global.
Dia juga menyerang para penyangkal perubahan iklim merupakan buatan manusia, mengklaim bahwa mereka menginginkan untuk melakukan perjudian dengan masa depan setiap manusia di atas planet dan generasi masa yang akan datang dan spesies hidup lainnya.
Ed Davey juga  mengatakan: “Dua ratus tahun kemajuan ilmu pengetahuan bertujuan meminalisir ketidakpastian, memperhitungkan resiko telah menjadi dasar dari apa yang ketahui sekarang, dan sudah diteriakkan dari dekade demi dekade penelitian”.
“Dasar fisika perubahan iklim tidak dapat terbantahkan. Gas rumah kaca telah menghangatkan atmosfir dan menyebabkan perubahan pada iklim . Aktivitas manusia secara signifikan berkontribusi dalam penghangatan planet kita”.
Pro dan Kontra Perubahan Iklim
Seperti yang dikemukakan oleh Ed Davey, hingga saat ini masih terdapat pro dan kontra kejadian perubahan iklim.
v  PRO – 75% peningkatan gas rumah kaca CO2 di abad 20 secara langsung berhubungan dengan aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil. Level CO2 sebesar 389ppm (parts per million) per April 2010 - level paling tinggi selama 650.000 tahun terakhir. Peningkatan ini merupakan kontributor yang cukup substansial pada penghangatan 1°F  menuju 1.4°F  selama abad 20.
·         KONTRA – Penghangatan pada abad  20 antara 1-1,4 F dalam kisaran  +/- 5°F selama  3000 tahun terakhir.Sebuah studi pada tahun 2003 oleh peneliti di Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics menunjukkan bahwa temperatur dari 1000-1100 AD (sebelum penggunaan bahan bakar fosil) yang sebanding dengan yang dari 1900-1990.
v  PRO – Manusia memproduksi CO2 yang menghangatkan bumi, bukan CO2 yang dihasilkan secaa alami yang dilepaskan dari lauran dan dari “carbon sink” lainnya. CO2 dari pembakaran bahan bakar memiliki rasio isotop yang spesifik  yang berbeda dengan CO2 yang dilepaskan oleh  ”carbon sinks” alami. Pada abad 20 pengukuran rasio isotop CO2 di atmosfir mengkonfirmasikan bahwa peningaktannya berasal dari aktivitas manusia bukan dari proses alamiah.
·         KONTRA -Kenaikan level CO2 adalah hasil dari pemanasan global, bukan sebaliknya. Sejalan ketika temperatur meningkat, CO2 dilepaskan dari “carbon sinks” atau dari tundra Arktik.  Pengukuran dari sampel inti es menunjukkan bahwa lebih dari 4 siklus iklim yangs udah terjadi (di periode 240.000 tahun akhir), periode pemanasan global didahului dengan peningkatan global  CO2.
v  PRO – Manusia memproduksi gas rumah kaca akan terus berakumulasi di atmosfir menyebabkan peubahan iklim disebabkan karena hutan bumi, lautan dan ”carbon sinks” lainnya tidak dapat secara cukup menyerap keseluruhan CO2. Pada tahun 2009, “carbon sinks” yang telah dikenal ini hanya menyerap 50%dari CO2 yang diproduksi manusia. Sisa 50% lainnya terakumulasi di atmosfir.
·         KONTRA – Manusia melepaskan CO2 tidak menyebabkan perubahan iklim karena peningkatan CO2 pada akhirnya akan diseimbangkan oleh alam. CO2 akan diserap oleh  lautan, hutan-hutan dan “carbon sinks” yang akan meningkatkan aktivitas biologisnya untuk menyerap kelebihan CO2 dari atmosfir. 50% dari CO2 yang telah dilepaskan dari pembakaran bahan bakar fosil telah terserap.

10 fenomena alam yang bisa dirasakan karena global warming:
1.      Kebakaran hutan
Kebakaran hutan biasa nya di sebabkan meningkat nya permukaan suhu di daerah tersebut akibat efek dari pemanasan global. terjadi di waktu musim kemarau


2.      Situs purbakala cepat rusak
Akibat alam yang tak bersahabat, sejumlah kuil, situs bersejarah, candi dan artefak lain lebih cepat rusak dibandingkan beberapa waktu silam. banjir, suhu yang ekstrim dan pasang laut menyebabkan itu semua. Situs bersejarah berusia 600 tahun di Thailand, Sukhotai, sudah rusak akibat banjir besar belum lama ini.
3.      Ketinggian gunung berkurang
Tanpa disadari banyak orang, pegunungan Alpen mengalami penyusutan ketinggian. Ini diakibatkan melelehnya es di puncaknya. Selama ratusan tahun, bobot lapisan es telah mendorong permukaan bumi akibat tekanannya. Saat lapisan es meleleh, bobot ini terangkat dan permukaan perlahan terangkat kembali.
4.      Satelit bergerak lebih cepat
Emisi karbon dioksida membuat planet lebih cepat panas, bahkan berimbas ke ruang angkasa. Udara di bagian terluat atmosfer sangat tipis, tapi dengan jumah karbondioksida yang bertambah, maka molekul di atmosfer bagian atas menyatu lebih lambat dan cenderung memancarkan energi, dan mendinginkan udara sekitarnya. Makin banyak karbondioksida di atas sana, maka atmosfer menciptakan lebih banyak dorongan, dan satelit bergerak lebih cepat.
5.      Hanya yang Terkuat yang Bertahan
Akibat musim yang kian tak menentu, maka hanya mahluk hidup yang kuatlah yang bisa bertahan hidup. Misalnya, tanaman berbunga lebih cepat tahun ini, maka migrasi sejumlah hewan lebih cepat terjadi. Mereka yang bergerak lambat akan kehilangan makanan, sementar mereka yang lebih tangkas, bisa bertahan hidup. Hal serupa berlaku bagi semua mahluk hidup termasuk manusia.
6.      Pelelehan Besar-besaran
Bukan hanya temperatur planet yang memicu pelelehan gunung es, tapi juga semua lapisan tanah yang selama ini membeku. Pelelehan ini memicu dasar tanah mengkerut tak menentu sehingga menimbulkan lubang-lubang dan merusak struktur seperti jalur kereta api, jalan raya, dan rumah-rumah. Imbas dari ketidakstabilan ini pada dataran tinggi seperti pegunungan bahkan bisa menyebabkan keruntuhan batuan.
7.      Keganjilan di Daerah Kutub

Hilangnya 125 danau di Kutub Utara beberapa dekade silam memunculkan ide bahwa pemanasan global terjadi lebih “heboh” di daerah kutub. mencairnya es d kutub d sebabkan suhu yang meningkat secara drastis sehingga dapat melelehkan es d kutub
8.      Mekarnya Tumbuhan di Kutub Utara
Saat pelelehan Kutub Utara memicu problem pada tanaman danhewan di dataran yang lebih rendah, tercipta pula situasi yang sama dengan saatmatahari terbenam pada biota Kutub Utara. Tanaman di situ yang dulu terperangkap dalam es kini tidak lagi dan mulai tumbuh. Ilmuwan menemukan terjadinya peningkatan pembentukan fotosintesis di sejumlah tanah sekitar dibanding dengan tanah di era purba.
9.      Habitat Makhluk Hidup Pindah ke Dataran Lebih Tinggi
Sejak awal dekade 1900-an, manusia harus mendaki lebih tinggi demi menemukan tupai, berang-berang atau tikus hutan. Ilmuwan menemukan bahwa hewan-hewan ini telah pindah ke dataran lebih tinggi akibat pemanasan global. Perpindahan habitat ini mengancam habitat beruang kutub juga, sebab es tempat dimana mereka tinggal juga mencair.
10.  Peningkatan Kasus Alergi
Sering mengalami serangan bersin-bersin dan gatal di matasaat musim semi, maka salahkanlah pemanasan global. Beberapa dekade terakhir kasus alergi dan asma di kalangan orang Amerika alami peningkatan. Pola hidupdan polusi dianggap pemicunya. Studi para ilmuwan memperlihatkan bahwa tingginya level karbondioksida dan temperatur belakangan inilah pemicunya. Kondisi tersebut juga membuat tanaman mekar lebih awal dan memproduksi lebih banyak serbuk sari.

Dampak Dari Pemanasan Global

v  Iklim mulai tidak stabil
Para ilmuwan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah utara belahan bumi utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan tanah itu akan menyusut
v  Peningkatan permukaan laut
Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Permukaan air laut di seluruh dunia telah meningkat sebesar 10-25 cm (4-10 inci) selama abad ke-20, dan para ilmuwan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9-88 cm (4-35 inci) pada abad ke-21.
Perubahan permukaan laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pesisir. Kenaikan 100 cm (40 inci) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau. Erosi tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika laut lepas mencapai muara, banjir pasang akan meningkat di daratan. 
v  Suhu Global Cenderung Meningkat
Bagian selatan dari Kanada, misalnya, dapat mengambil manfaat dari curah hujan yang lebih tinggi dan panjang musim tanam. Di sisi lain, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh.
v  Gangguan Ekologis
Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit untuk menghindari efek pemanasan global karena sebagian besar lahan dikendalikan oleh manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub dan gunung-gunung. Tanaman akan mengubah arah pertumbuhan, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Namun, pembangunan manusia akan menghambat perpindahan ini.
Spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.







Sumber :










Tidak ada komentar: